Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

9 Prinsip Bisnis Rasulullah yang Tak Pernah Merugi



Ada sebuah hadits yang berbunyi, “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah sudah mulai berbisnis sejak usia 12 saat bersama sama dengan pamanya Abu Thalib.

Rasulullah telah berniaga selama 28 tahun dari usia 12 hingga 40 tahun. Dan dalam sejarah, Rasulullah tidak pernah rugi namun sebaliknya ia mendapatkan untung yang sangat banyak.

Ada banyak prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah yang dapat kita tiru untuk mengembangkan perniagaan. Dan prinsip prinsip ini akan terus dapat digunakan sampai kapanpun.

Berikut cara berbisnis Rasulullah:


1. Diniatkan karena Allah SWT


Dalam sebuah hadits ahad dari Umar bin Khattab disebutkan bahwa “ Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah telah meniatkan berdagang untuk Allah taala saja tanpa ada sedikitpun niat untuk menumpuk harta kekayaan atau memperoleh sebesar-besarnya untuk keuntungan pibadi.

Itu sangat jauh dari beliau. Dengan sikap tulus beliau segala macam masalah pastinya akan dengan mudah dilewati. Harta yang didapatkan tidak digunakan untuk diri sendiri, namun juga untuk disedekahkan kepada yang membutuhkan.

Di usianya yang baru menginjak sekitar 17 tahun, ia telah mandiri melakukan perdagangan antar negara hingga terdengar oleh salah seorang pemimpin dagang kaya raya yang bernama Khadijah.

Setelah menikah, harta yang ada banyak digunakan untuk melakukan dakwah pada masa itu.

2. Bersikap jujur


Hal yang disukai para pelanggan Rasulullah adalah kejujurannya. Ia tidak pernah mengurangi timbangan, mengatakan apa adanya mengenai barang yang dijual.

Bahkan Rasulullah sering sengaja menambah timbangan untuk konsumennya agar pembeli senang.

Atas kejujurannya dalam berdagang rasulullah sampai digelari “Al-Amin” yang berarti orang yang bisa dipecaya.

Allah SWT berfitman yang artinya:
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. ItuIah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al lsraa: 35)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi)

3. Menjual barang berkualitas bagus


Rasulullah tidak menjual barang yang rusak, cacat atau apapun yang akan merugikan pembeli.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan. (HR. Ibn Majah)

Dengan menjual barang berkualitas serta bersikap jujur mengenai kekurangan barang akan menjadikan kita sebagai penjual yang terpercaya. Tentunya pembeli akan menjadi pelanggan tetap karena sikap penjual yang koperatif.

 4. Mengambil keuntungan sewajarnya


Terkadang kita melihat penjual yang mematok harga sangat tidak wajar untuk mendapatkan keuntungan setinggi tingginya tanpa memikirkan konsumennya lebih jauh.

Ini dalam jangka panjang justru akan berakibat buruk. Konsumen hanya dipandang sebagai tempat mengeruk kekayaan saja alih alih orang-orang yang dapat dibantu dengan barang yang dijual.

Hal ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Beliau senantiasa menetapkan harga yang wajar agar sama-sama untung dikedua belah pihak.

Ada sebuah kisah menarik dimana Abdul Rahman bin ‘Auf bahkan pernah menghebohkan pasar di Madinah karena ia menjual unta sangat murah sekali sampai pedagang lain heran dari mana keuntungan beliau.

Ternyata keuntungannya berasal dari tali unta yang dijual bersama unta. Beliau membeli unta tanpa tali, memberinya tali dan menjual dengan keuntungan tali tersebut. Keuntungannya sangatlah kecil namun dapat dikali dengan jumlah orang yang berbondong-bondong membeli dari beliau, beliau masih mendapatkan untung.

Sejatinnya inilah yang saat ini dilakukan oleh China yang menjual barang sangat rendah dengan keuntungan juga rendah sehingga pelanggan senang, menjadi pelanggan dan dalam skala besar China menguasai perdagangan global.

5. Tidak memberikan janji berlebihan dan palsu


Seringkali untuk menarik pembeli, seorang pedagang melakukan promosi fantasis dengan janji janji tertentu untuk menarik perhatian dan kepercayaan konsumen menggunakan produk tersebut.

Namun sayangnya seringkali pelanggan dikecewakan oleh janji manis para penjual. Ini sangat dilarang oleh Rasulullah yang bisa kita lihat dari hadits Rasulullah berikut ini:

Rasulullah bersabda: “Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”. Rasulullah menjawab: “Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu”. (HR. Ahmad)

Selain itu Rasulullah pernah juga bersabda:
Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sumpah itu melariskan barang dagangan, akan tetapi menghapus keberkahan”

Sudah seharusnya menjadi aturan baku bahwa seorang pedangan mengatakan keadaan barang dagangannya sebagaiamana kondisinya. Ini tidak akan merugikan pelanggan nantinya yang mungkin akan kecewa setelah membeli.


6. Saling menguntungkan kedua belah pihak


Cara berdagang rasulullah selanjutnya dengan mengutamakan prinsip saling menguntungkan serta suka sama suka antar pembeli dan penjual. Tidak ada yang ditutupi-tutupi dari barang dagangannya. Dan harus mencapai kesepakatan bersama, baik dalam harga, jenis barang, dan cara memberikan barang tersebut kepada pembeli.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah dua orang yang berjual-beli berpisah ketika mengadakan perniagaan kecuali atas dasar suka-sama suka. (HR. Ahmad).
Sesungguhnya perniagaan itu hanyalah perniagaan yang didasari oleh rasa suka sama suka. (HR. Ibnu Majah)

7. Tidak melakukan penimbunan


Penimbunan adalah dimana seseorang menyetok barang dengan jumlah yang banyak sebelum periode kelangkaan, kemudian menyimpannya dalam jumlah yang banyak dengan tidak menjualnya kemudian menjual kembali pada saat periode kelangkaan dengan harga yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Aktifitas ini merupakan sebuah kezaliman terhadap orang lain dan Rasulullah sangat melarang aktifitasi ini.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan melainkan dia adalah pendosa.” (HR. Muslim)

8. Tidak menjelek-jelekan dagangan orang lain


Terkadang untuk membuat dagangannya menjadi terlihat lebih unggul, ia menjelek-jelekan pedagang lain. Dengan demikian si penjual merasa sudah cukup mengunggulkan barangnya dibanding barang orang lain.

Padahal cara ini adalah cara yang tidak baik. Sebaiknya jelaskan kualitas dan ketahanan, keunggulan dan kelebihan baik dari sisi kualitas, harga, dan segi prestisius barang tersebut dibanding menjelek-jelekan produk orang lain.

Rasulullah melarang umatnya untuk menjual dengan cara demikian. Sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

“Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yang dijual orang lain” (HR. Muttafaq Alaih)

9. Bersikap ramah dengan pembeli


Rasulullah senantiasa ramah kepada para pembelinya dengan memperlihatkan sikap santun dan tersenyum menjadikan pembeli nyaman berada di dekatnya.

Sebagai pedagang, kita dapat meniru contoh Rasulullah dengan mengganti wajah judes dengan sikap lembut, ramah dan memasang wajah senyum.

Post a Comment for "9 Prinsip Bisnis Rasulullah yang Tak Pernah Merugi"