Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Cara Menciptakan Budaya Kerja Seperti Google


Cara Menciptakan Budaya Kerja Seperti Google


Selain dengan teknologi yang luar biasa, dengan banyaknya profit yang didapatkan perusahaan dan perekrutan pegawai paling ketat di muka bumi, Google telah menjadi raksasa teknologi seperti saat ini salah satunya berkat budaya kerja unik yang dikembangkannya.

Banyak perusahaan yang mulai berusaha meniru budaya kerja yang Google terapkan dan mencari tahu rahasia apa yang membuat perusahaan ini begitu menarik bagi mereka yang memiliki talenta terbaik di dunia dan mempertahankannya serta memiliki loyalitas yang sangat tinggi.

Budaya Google sangatlah unik. Bahkan anda bisa melihat Googleplex (sebutan kantor Google) alih-alih terlihat seperti kantor, Googleplex lebih terlihat seperti taman bermain dewasa.

Sebagaimana yang dilansir oleh Forbes, apa yang terjadi pada budaya Google saat ini adalah hasil kerja seseorang yang bernama Laszlo Bock yang berada di bagian kepala “People Operation” apa yang biasanya perusahaan lain sebut dengan “Sumber Daya Manusia”.

People Operation adalah salah satu divisi di Google yang meneliti terkait dengan sumber daya manusia. Inilah yang menjadikan Google menjadi perusahaan dengan kinerja terbaik.

Budaya kerja Google ini bisa ditiru dan diduplikasi. Jika perusahaan anda ingin memiliki budaya kerja seperti Google, anda dapat mengikuti panduan ini.

Hal yang paling penting adalah bagaimana Google merekrut, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan, kemudian baru kita ikuti tahapannya untuk perusahaan kita.

Bagaimana Google merekrut


Setiap tahun ada jutaan pelamar kerja yang melamar ke perusahaan Google dan Google mengulas masing-masing dari itu semua.

Hal yang unik dari Google adalah bagaimana mereka mewawancara calon pekerjanya. Misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada kaitan sama sekali dengan pekerjaan yang hendak dilamar. Misalnya pertanyaan: “Berapa jumlah bola golf yang dibutuhkan untuk muat di dalam bus sekolah?”

Pertanyaan ini telihat aneh dan tidak penting namun ini adalah salah satu cara Google menyaring mana kandidat yang potensial, cerdas, bijak dan mana yang tidak. Sebenarnya tidaklah penting apa jawaban yang dilontarkan. Yang ingin diketahui oleh Google mengenai pertanyaan ini adalah bagaimana ia menjawab pertanyaan tersebut, bagaimana ia menganalisis, dan bagaimana daya kritisnya.

Namun setelah sekian lama Google menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang mengasah otak saat wawancara, kini Google membuat sebuah pembaruan. Kini google menerapkan apa yang disebut dengan “wawancara perilaku terstruktur.”

Jadi pelamar diberi pertanyaan misalnya: “Contohkan kepada saya bagaimana anda mengatasi masalah yang cukup sulit untuk dianalisis.” Pewawancara nantinya akan melihat bagaimana pelamar menghadapi situasi nyata serta melihat apa yang menyulitkan si pelamar. Akan terlihat pula kekurangan yang ada pada kandidat. Dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini.

Cara Menciptakan Budaya Kerja Seperti Google

Bagaimana menerapkannya di perusahan anda?


Cara yang sama dapat anda terapkan yaitu dengan mengajukan pertanyaan yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan pekerjaan untuk mengetahui bagaimana ia menyelsaikan masalah dan bagaimana sikap kritis juga analisanya.

Seringkali para pelamar kerja sudah latihan terlebih dahulu menghadapi pertanyaan-pertanyaan umum yang diajukan oleh perusahaan yang mencari pelamar. Jadi jawaban seringkali berdasarkan panduan yang mereka baca untuk memperbesar peluang diterimanya kerja.

Dengan mengajukan pertanyaan diluar ekspektasi mereka, ini akan menjadi interupsi diluar dugaannya. Jawaban akan keluar secara natural yang merupakan ekspresi terdalam dari karakter seseorang.

Bagaimana Google mempertahankan karyawan


Salah satu hal yang penting bagi perusahaan adalah memastikan bahwa perusahannya mampu mempertahankan orang-orang yang paling kompeten di perusahaan tersebut karena mereka adalah aset terbesar perusahaan.

Google sangat paham ini dan mereka memiliki karyawan yang sangat loyal. Bagaimana ia mempertahankan karyawannya? Ada baiknya kita melihat apa saja keuntungan menjadi karyawan Google:

Sarapan, makan siang, dan makan malam gratis yang disiapkan oleh koki
Pemeriksaan kesehatan dan gigi gratis
Cukur rambut gratis
Cuci pakaian gratis
Gym dan kolam renang
Tersedia video game, bola sepak, ping pong
Dokter tersedia di tempat
Tunjangan Kematian

Ini semua adalah fasilitas yang dibayar oleh Google untuk memastikan bahwa karyawannya puas. Ada biaya tinggi untuk mampu mempertahankan karyawan terbaik yang telah direkrut. Dengan apa yang telah dilakukan tersebut, tidak heran Google secara konsisten selalu menduduki posisi pertama dalam daftar tempat terbaik untuk bekerja.

Banyak perusahaan teknologi yang kehilangan karyawan terbaiknya karena mereka pindah ke Google atau membangun bisnis mereka sendiri. Ini adalah konsekuensi mempekerjakan orang yang cerdas, berbakat dan ambisius.

Hal yang sama diterapkan oleh Tokopedia. Tokopedia adalah perusahaan yang paling diminati oleh para pelamar kerja di Indonesia. Salah satu sebabnya adalah ia menerapkan apa yang telah diterapkan oleh Google dengan menyediakan fasilitas penunjang yang membuat nyaman para karyawannya.

Bagaimana menerapkannya?


Filosofi Tokopedia adalah menjadikan kantor Tokopedia menjadi rumah kedua bagi karyawannya sehingga membuat kantor mereka senyaman berada dirumah. Dengan pandangan seperti ini, Tokopedia kebanjiran pelamar kerja bertalenta tinggi dengan loyalitas karyawan yang tinggi juga.

Bagaimana menerapkannya?


Anda juga dapat menerapkan cara yang sama dengan memberikan kenyamanan bagi karyawan agar kayawan menjadi betah untuk ke pergi ke kantor. Buatlah tempat kerja tanpa sekat, berikan fasilitas bermain dan berolahraga dikantor untuk menghilangkan penat setelah bekerja.

Budaya yang dibangun berdasarkan riset


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Google memiliki divisi People Operation yang menguji dan mencari tahu cara mengoptimalkan potensi terbaik karyawan, baik dari segi kabahagiaan maupun kinerja. Dan itu semua berdasarkan riset dan data.

Mereka menggunakan semua data yang dapat dikumpulkan untuk kemudian dianalisis guna mengukur karyawan mereka dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas karyawan mereka.

Google memiliki strategi agar karyawannya mampu tetap produktif meski banyak fasilitas yang dapat menghambar produktivitas para karyawannya. Mereka tahu bagaimana merancang meja makan dan meja konferensi untuk memunculkan ide dan mempererat karyawan dan itu semua menggunakan reset yang mereka lakukan.

Contoh sederhana lainnya adalah budaya menyambut hangat karyawan baru. Manajer diharuskan untuk meyapa karyawan baru dengan sapaan “Senang bertemu dengan anda, Anda berada di tim saya, kita akan bekerja bersama.” Ternyata ini dapat meningkatkan produktivitas sebesar 15% dari bulan-bulan sebelumnya.

Cara Menciptakan Budaya Kerja Seperti Google


Bagaimana menerapkannya?


Meskipun penelitian dan riset telah dikembangkan oleh Google dan peneliti lain, namun kasusnya tidak selalu sama. Kultur budaya Amerika sangat jauh berbeda dengan Indonesia sehingga dalam penerapan akan sangat mungkin berbeda. Jadi cobalah trial error ke sebagian karyawan untuk melihat produktivitasnya dan apakah ia meninkmatinya.

Google sendiri menerapakan hal demikian. Ia meneliti perilaku sejumlah karyawannya yang mengadopsi budaya baru sebelum ditarik ksimpulan untuk mengubah seluruh budaya kerja perusahaan.

Dalam hal ini, sebagai pemilik usaha atau bagian sumber daya manusia di perusahaan harus mampu menjadi pendengar yang baik bagi karywannya dan menyediakan alternatif ketiga yang saling menguntungkan antara karyawan dan perusahaan.

Post a Comment for "Cara Menciptakan Budaya Kerja Seperti Google"