Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Perkembangan Teknologi Digital, Berikut Ulasannya

Perkembangan Teknologi Digital

Teknologi digital adalah suatu alat yang tidak lagi menggunakan tenaga manusia secara manual, tetapi lebih pada sistem pengoperasian otomatis dengan sistem komputerisasi atau format yang dapat dibaca oleh komputer.

Teknologi digital pada dasarnya hanyalah sistem penghitung sangat cepat yang memproses semua bentuk-bentuk informasi sebagai nilai-nilai numerik (kode digital).

Informasi berupa kode digital atau nilai-nilai numerik (angka). Sebelum diproses, diperlokan sensor yang mengubah informasi-informasi nyata menjadi kode digital (contohnya adalah kamera digital).

Kode digital yang dikirim sensor barulah akan diolah oleh komputer (mikroprosessor) yang dimana di setiap alat digital pasti ada. Dari hasil pengolahan data digital tersebut, informasi akan ditampilkan pada layar.

Pengertian, Kelebihan, dan Kekurangan Teknologi digital

Perkembangan teknologi digital membuka era digital dan secara garis besar dapat dilihat pada 3 hal berikut.


1.Lahirnya komputer pada tahun 1940 dan perkembangannya sejak saat itu

2.Lahirnya internet atau World Wide Web (WWW) pada tahun 1989

3.Lahirnya situs jejaring sosial (social media) pada tahun 1997 dan maraknya penggunaannya sejak tahun 2000-an

Kelebihan Teknologi Digital 

Setiap jenis teknologi memiliki kelebihannya masing-masing, berikut ini beberapa kelebihan teknologi digital:

1.Data yang dikirimkan dari satu tempat ke tempat lain tidak terpengaruh cuaca buruk dan noise karena data yang ditransmisikan dalam bentuk sinyal digital.

2.Berbagai tipe sistem komunikasi tersedia dan dapat digunakan.

3.Biaya perawatan lebih rendah karena lebih praktis dan stabil.

Kekurangan Teknologi Digital

Selain memiliki keunggulan, setiap jenis teknologi memiliki efek samping yang ditimbulkan, berikut ini beberapa kekurangan teknologi digital:

1.Kesalahan yang mungkin terjadi pada saat mengubah sinyal analog ke digital (digitalisasi).

2.Kemungkinan tercurinya data digital yang penting seperti nomor rekening, data pekerjaan, dll oleh hacker ataupun virus.

3.Membuat ketergantungan yang berlebihan pada penggunanya, yang dapat menghambat kemampuan empati dan sosial secara nyata.

Perkembangan Teknologi Digital

Perkembangan Teknologi Digital di Indonesia


Indonesia sudah menapaki era Industri 4.0, yang antara lain ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi. Namun, belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya.

Bahkan, fakta-fakta perubahan itu masih sering diperdebatkan.

Misalnya, banyaknya toko konvensional di pusat belanja (mall) yang tutup sering dipolitisasi dengan argumentasi bahwa kecenderungan itu disebabkan oleh menurunnya daya beli masyarakat.

Padahal, toko-toko konvensional memang mulai menghadapi masalah serius atau minim pengunjung karena sebagian masyarakat perkotaan lebih memilih sistem belanja online.

Dari beli baju, sepatu, dan buku hingga beli makanan semuanya dengan pola belanja online.

Era Industri 4.0 akan terus menghadirkan banyak perubahan yang tak bisa dibendung. Karena itu, ada urgensinya jika negara perlu berupaya maksimal dan lebih gencar memberi pemahaman kepada semua elemen masyarakat tentang hakikat era Industri 4.0 dengan segala konsekuensi logisnya.
Langkah ini penting karena belum banyak yang berminat memahami Industri 4.0.

Masyarakat memang sudah melakoni beberapa perubahan itu, tetapi kepedulian pada tantangan di era digitalisasi dan otomasi sekarang ini pun terbilang minim.

Untuk itu, ada beberapa hal yang menunjukkan kemudahan dengan adanya kemajuan teknologi di era digital saat ini,

1. Mudahnya Berkomunikasi

Semua manusia saling terhubung dengan adanya internet. Apalagi dengan munculnya social media sekarang ini, seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya.

Anda bisa menyebarkan informasi melalui media sosial tersebut. Selain itu, Anda juga bisa saling menjalin silaturahmi dengan teman atau saudara yang tinggal jauh.

Memanfaatkan fitur video call sehingga Anda akan tetap terhubung tanpa ada batasan waktu dan wilayah.

2. Mobile dan Fleksibel

Era digital adalah masa di mana semua serba mudah dan tidak ada batasannya. Anda bisa mengerjakan apapun secara mobile, Bahkan sekarang ini ada banyak sekali event yang tidak mengharuskan pesertanya datang. Hanya butuh media online, Anda bisa melakukan segala sesuatu dengan mudah

3. Mudahnya Berbelanja 

Untuk Anda yang suka berbelanja, hidup di era digital adalah surga dunia. Anda bisa memilih barang tanpa harus repot pergi ke toko atau ke mall.

Cukup bermodalkan smartphone dan internet saja, Anda sudah bisa memilih barang sesuai kebutuhan.

Mulai dari kebutuhan pokok, fesyen, souvenir, bayar listrik, bayar pulsa, bayar tiket kereta api, bayar paket data sampai dengan membeli game online. Anda bisa pilih barang dan harga sesuai kondisi dompet.

4. Internet lebih berkuasa daripada pulsa

Di zaman sekarang ini, internet lebih dibutuhkan ketimbang pulsa. Era digital adalah suatu tanda kemajuan internet. Milenial bahkan lebih memilih tidak makan daripada tidak ada akses internet. Jika paket data habis, mereka akan cenderung mencari koneksi wifi untuk melakukan segala aktivitas di social media dan game online yang sudah menjadi gaya hidup

Dalam mencegah kecanduan yang berlebihan terhadap era digitalisme, masyarakat harus flasback ke belakang disaaat dimana mereka masih bisa hidupa ataupun begitu banyak kebahagiaan lain yang bisa dicari walau tanpa ada internet. Kita tidak bisa sepenuhnya meninggalkan internet saat ini karena hal tersebut merupakan kekuatan terbesar yang ada di dunia.


Perkembangan Teknologi Digital

Perkembangan Teknologi Digital Terhadap Perekonomian Indonesia


Banyak faktor yang mendorong perkembangan dinamika digital di Indonesia, namun setidaknya dapat dibagi dalam dua perspektif: industri dan konten. Dari sisi industri, terlihat bahwa operator telekomunikasi berlomba-lomba membangun infrastruktur secara masif, mulai dari jaringan 2G, 3G, hingga 4G.

Tidak hanya itu, terjadi persaingan antar operator yang cenderung tidak sehat dan menimbulkan perang tarif, dimana operator menurunkan harga serendah-rendahnya untuk menaikkan utilisasi jaringan mereka.

Walaupun perang tarif berdampak buruk bagi industri telekomunikasi, tapi dampaknya terhadap masyarakat sangat terasa, dimana telekomunikasi kini tidak lagi dianggap sebagai barang mahal.

Sedangkan dari sisi konten, menggeliatnya penggunaan media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter serta munculnya aplikasi chat seperti WhatsApp dan LINE menjadi pendorong utama penetrasi data di Indonesia.

Meskipun perilaku digital masyarakat Indonesia menunjukkan tren yang meningkat, faktanya infrastruktur telekomunikasi di Indonesia belum terbangun secara merata. Pembangunan infrastruktur yang masif hanya terlihat di kawasan Jawa dan Sumatera, sedangkan di kawasan timur Indonesia infrastruktur telekomunikasi yang ada masih jauh dari memadai.

Menariknya, tren pertumbuhan start-up ini dipelopori oleh para generasi muda yang memiliki semangat sociopreneurship, yakni bagaimana mereka dapat menyelesaikan berbagai masalah yang ada di masyarakat serta memberikan dampak yang signifikan lewat medium teknologi.

Salah satu contohnya adalah bagaimana Nadiem Makarim mendirikan Go-Jek untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan moda transportasi ojek yang cepat dan dapat diandalkan.

Dampak yang ditimbulkan Go-Jek sangat signifikan. Dampak positifnya sudah jelas, Go-Jek mendorong pertumbuhan lapangan kerja baru yang menjanjikan yang dapat memberikan pemasukan lebih dibanding industri konvensional dengan jam kerja fleksibel. Selain itu, Go-Jek juga mencoba menjadi solusi atas absennya pemerintah dalam menyelesaikan masalah kemacetan dengan menawarkan mobilitas yang tinggi.

Contoh lain adalah William Tanuwijaya, CEO Tokopedia yang awalnya punya visi untuk mempermudah siapapun agar dapat memulai bisnis mereka sendiri lewat medium internet. Ekonomi digital memang memiliki dampak yang signifikan terhadap pembangunan di Indonesia.

Industri Fintech juga menjadi salah satu primadona yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Laporan dari DailySocial mencatat bahwa dalam dua tahun terakhir pertumbuhan fintech start-up mencapai 78%, dan sebagian besar fokus di sektor pembayaran.

Hal ini wajar mengingat fakta bahwa saat ini hanya 36% dari orang dewasa di Indonesia yang memiliki rekening di bank. Padahal, teknologi finansial adalah enabler penting bagi kesuksesan ekonomi digital. Selain itu, dampak dari fintech sendiri sangat terasa dalam hal mempromosikan layanan finansial yang inklusif.

Dengan adanya fintech, masyarakat dapat melakukan pembayaran lewat pulsa telepon ataupun lewat minimarket secara mudah dibanding harus melakukan transfer lewat bank. Menyadari pertumbuhan industri fintech ini, pemerintah lewat Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersikap sangat supportif dengan menyusun peraturan mengenai peer-to-peer Fintech lending serta membuka Bank Indonesia Fintech Office (BI FTO) untuk memantau segala dinamika pertumbuhan industri fintech di Indonesia.

E-commerce juga menjadi industri yang mengalami pertumbuhan signifikan di Indonesia. Hal ini didasari fakta bahwa 8 juta masyarakat Indonesia sudah berbelanja secara online dan diprediksi terus meningkat. Perilaku konsumtif dan digital dari masyarakat Indonesia, ditambah meningkatnya jangkauan pasar menjadi pendorong utama. Tren ini pula yang membuat banyak pemain yang selama ini berjualan secara offline turut membuka toko online.

Namun dampak besar dari perkembangan tegnologi tidak semua memiliki dampak baik, melainkan juga sisi negatif, seperti selayak nya saat ingin membuat gebrakan yang baru akan tetap ada saja pihak yang dirugikan , tidak mungkin tidak ada. Misalnya dampak disruptif yang ditimbulkan Go-Jek, terutama terhadap para ojek dan taksi konvensional. Penghasilan yang menurun dan kompetisi yang dirasa tidak adil menjadi pemicunya, sehingga banyak terjadi penolakan di daerah-daerah bahkan sampai berujung anarkis.

Dengan digitalisasi dan perkembangan teknologi, beberapa sektor ekonomi mengalami pengurangan tenaga kerja. Contohnya jasa administrasi, manufaktur dan industri, jasa kuliner, konstruksi dan pertambangan serta banyak jenis pekerjaan lainnya yang selama ini berfungsi standar dan berulang, pada akhirnya digantikan oleh mesin otomatis yang serba efisien.

Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental "instant".

Kita menyadari disrupsi teknologi ini terjadi di seluruh dunia. Di negara maju, penyebab utama perubahan karena jam kerja lebih fleksibel. Di negara berkembang, era perubahan akan meningkatkan penduduk berpendapatan menengah yang mempunyai konsumsi dan gaya hidup yang berbeda.

Dengan berkembang pesatnya tegnologi digital , telah menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia sehingga mengharuskan dibentuknya pengaturan mengenai pengelolaan Informasi dan Transaksi Elektronik di tingkat nasional sehingga pembangunan Teknologi Informasi dapat dilakukan secara optimal, merata, dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat guna mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kita sebagai anak muda generasi sekarang harus ikut serta dalam perkembangan, dengan memenfaatkan segala sesuatu yang sudah disiapkan pemerintah, berfikir kreatif , serta mengambil peluang yang banyak, bukan malah hanya sekedar menikmati kemajuan tegnologi digital dengan bermalas malasan.

Perkembangan Teknologi Digital dari Masa ke Masa

Teknologi diibaratkan seperti manusia, ia terus tumbuh dan berkembang dari 'bayi' hingga 'dewasa'. Namun tahukah kamu bahwa kita hidup pada zaman di mana teknologi tengah berkembang ke fase dewasa?

Cara kita mengakses (teknologi) terus berubah seiring berjalannya waktu. Smartphone bisa berubah ke kacamata pintar, kacamata pintar bisa berubah ke lensa pintar, lensa pintar bisa berubah ke lensa implan biologis. Apapun bentuknya, tujuan ini tetap saja: membuat kita terhubung dengan teknologi di mana pun dan kapan pun.

1. Fase I - Surfacing (1950-1995)

Pada fase pertama, manusia diperkenalkan lewat teknologi dengan cara paling sederhana. Di era 1980-an, Personal Computer muncul. Menjelang awal 1990-an, adopsi internet mulai menyebar. Pengguna early adopter ini pun memanfaatkan akses internet untuk mengakses lebih banyak informasi.

2. Fase II - Organizing (1990-2015)

Fase yang baru saja berakhir pada 2015 lalu. Fase ini adalah fase di mana pengakses teknologi 'mengatur' (organize) informasi dari internet dan membuatnya bisa diakses secara global dan berharga secara universal. Dengan demikian, hadirlah smartphone, perangkat yang menawarkan akses lebih cepat dan mudah, serta mendekatkan penggunanya.

3. Fase III - Extracting (2010-2025)

Saat fase II berlangsung, fase ketiga juga terjadi di awal 2010. Bedanya, fase tersebut berperan penting dalam proses penggabungan teknologi dengan manusia. "Era ini merepresentasikan pendewasaan situs web. Mesin pencarian menjadi lebih pintar, penetrasi smartphone semakin meluas, konektivitas lebih cepat dan unggul di banyak wilayah dunia.

Pada fase ini juga, terjadi perkembangan machine learning yang dramatis. Di sini, manusia tak hanya mengatur akses informasi, tetapi juga mengekstrak arti baru dari perluasan teknologi itu sendiri, mereka terbiasa dengan sistem operasi, perangkat pintar, Internet of Things, kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) dan asisten virtual.

4. Fase IV - Anticipating (2020-2035)

Pada 2020, fase baru muncul di mana perluasan teknologi menjadi manifestasi ide yang memiliki dampak besar. Pada fase ini, kecerdasan buatan dan deep learning menjadi lebih baik, teknologi mulai 'mengerti' apa yang manusia inginkan baik secara konteks.

"Asisten virtual, chatbots, akan lebih mengambil peran pada fase ini. Pengakses teknologi disini akan mengantisipasi dampak yang terjadi, mereka harus terbiasa dengan penggunaan assiten virtual dan chatbots`

5. Fase V - Elevating (2030-2050)

Fase yang diklaim Chris sebagai fase akhir dari proses penggabungan teknologi dan manusia. Pada fase tersebut, kecerdasan buatan mengubah cara manusia dalam beraktivitas sehari-hari. Kecerdasan buatan juga akan memiliki akal seperti manusia, ia bisa bekerja dengan otak manusia.
Akan banyak penemuan-penemuan inovasi teknologi berbasis kecerdasan buatan. Perannya akan lebih besar. Mereka bisa menyatu dengan jiwa dan raga manusia. Bahkan manusia nanti bisa mengunggah pikirannya ke cloud, mungkin suatu saat akan terjadi.

Perkembangan Teknologi Digital

Perkembangan Teknologi Digital Dalam Pendidikan


Kemajuan perkembangan teknologi memberikan kontribusi yang baik terhadap pendidikan. Adanya teknologi digital menjadi salah satu media elektronik dengan membentuk paradigma baru dalam proses belajar dan pengelolaan organisasi pendidikan.

Penggunaan teknologi digital di dalam pendidikan tergambar pada perubahan model pembelajaran, seperti semakin tumbuhnya pendidikan jarak jauh (distance learning).

Misalnya proses pembelajaran yang menyebabkan pendidik dan peserta didik tidak perlu berada di tempat yang sama, tetapi proses pembelajaran tetap berlangsung secara daring. Selain itu, semakin banyak pilihan sumber belajar yang tersedia, seperti buku elektronik (e-book) dan mudahnya mengakses aplikasi digital, seperti e-library, e-forum, e- journal.

Sistem digital memiliki dampak positif yang dihasilkan berupa kemudahan-kemudahan dalam akses dan penyelesaian tugas sekolah/perkuliahan.

Layanan pendidikan online berfungsi untuk membantu proses belajar dan meningkatkan kinerja dengan membuat, menggunakan, mengelola proses dan sumber belajar yang memadai, serta menciptakan sebuah inovasi pembelajaran yang efektif dan efisien. Adanya penggunaan sistem digital ini membuat banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan secara cepat dan mudah.

Dalam bidang pendidikan dengan memanfaatkan teknologi digital akan lebih efisiensi biaya, menghemat waktu, sekaligus memperluas akses belajar yang terjangkau serta mendorong pembelajaran yang lebih efektif dengan tetap mengedepankan keterlibatan pendidik dan peserta didik.

Digitalisasi dalam pendidikan dapat memberdayakan peserta didik saat berlangsungnya proses pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan yang lebih banyak.

Peserta didik pun dapat mengadopsi teknologi digital, konten interaktif dan personal, serta mempersiapkan peserta didik dengan keterampilan. Semua ini tentu didukung dengan memberikan rencana pembelajaran dan pelatihan yang tepat untuk peserta didik.

Begitu juga dengan para pendidik yang menerapkan peran integral dan pelatihan dalam penggunaan teknologi disertai peningkatan pedagogi.

Untuk menghadapi perubahan kebutuhan dari peserta didik sebagai generasi kerja akan datang. Hal ini pun menuntut para pendidik mampu mengelola secara cerdas dan dapat beradaptasi dengan perubahan iklim ilmu pengetahuan di era digital.

Demikian juga digitalisasi dalam pendidikan akan menuntut respon balik dari pelaksana pendidikan. Adanya komitmen dan dukungan lembaga/institusi pendidikan dalam memberikan program terpercaya serta dapat dengan mudah diakses dan dijalankan oleh lembaga tersebut.

Semua ini dimaksudkan agar pendidikan tetap menghasilkan pendidikan yang sesuai dengan tujuannya.

Kesimpulan : Kita harus pandai-pandai memanfaatkan teknologi digital ini sebaik mungkin agar bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita.

Post a Comment for "Perkembangan Teknologi Digital, Berikut Ulasannya"